RubriKNews.com, BENGKULU UTARA – Mantan Bupati BU Dr.Ir. HM Imron Rosyadi, MM, M.Si tunjukkan kekesalannya terhadap pernyataan salah satu dewan pendiri Yayasan Ratu Samban (YRS) Iskandar Kasim, terkait pernyataan yang mengatakan bahwa dirinya selama menjadi Bupati tidak ada kontribusi untuk Unras, kemudian yang mengatakan tidak pernah dilibatkan pada penyempurnaan akta notaris, yang mengacu pada Undang-undang Yayasan, sangat disayangkan.
Dengan tegas kepada Radar Lebong, Imron Rosyadi yang telah resmi menjadi Rektor Unras definitif, versi YRS menyatakan bahwa Iskandar Kasim itu, sudah pikun dan kehilangan pikiran. Pernyatann kekesalan ini, ia ungkapkan lantaran ia sangat menyayangkan saja, seorang yang sudah tua yang seharusnya menjadi panutan, justru tidak bisa menjadi panutan, yang mau saja menjadi pion politiknya seorang Kepala Daerah.
” Sangat disayangkan, dengan pikunnya Iskandar Kasim ia kehilangan pikiran, yang mau saja menjadi pion politik terutama yang memiliki kepentingan membuat kegaduhan didunia pendidikan, terutama yang merasa ada sentimen pribadi dengan saya,” ujarnya.
Sejauh ini, Imron lebih jauh menegaskan, tidak akan gentar atas apa yang akan dilakukan oleh orang yang tidak bertanggungjawab dengan mengklaim dunia pendidikan miliknya, terutama di Universitas Ratu Samban (Unras) Arga makmur. Unras ini didirikan kata Imron, untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) penerus bangsa di Kabupaten BU ini, maka itu sudah sewajarnya pemerintah kabupaten mendukungnya, untuk kemajuan dunia pendidikan khususnya di Kabupaten ini. Ini justru lain, yang ada saat ini dunia pendidikan yang dari awal yang saat ini kita perjuangkan dengan niat tulus untuk mengembangkan dunia pendidikan, justru dibuat ricuh, terlebih lagi soal menahan dana beasiswa yang notabenenya, untuk kepentingan 200 mahasiswa yang dari awal sudah menjadi komitmen Pemkab BU untuk mendukungnya menjadi SDM yang baik.
” Kalau seperti ini, pemkab sudah bukan seperti dulu lagi, yang secara kasat mata tidak lagi mendukung dunia pendidikan di BU. Masa iya, dana yang diperuntukkan untuk kemaslahatan mahasiswa justru dibuat ricuh, yang banyak pihak dengan kepentingan yang tidak diketahui mengklaim sebagai pengurus. Jika iya mementingkan dunia pendidikan, kemana selama ini kok baru sekarang muncul, buat ricuh lagi. Sangat disayangkan ini, kendati demikian saya akan berusaha semampu saya bekerja keras membangun kembali Unras ini dengan kemandirian tanpa harus bergantung lagi, karena kejadian ini sudah cukup menjadi pengalaman yang pahit, terutama terhadap seorang kepala daerah,” bebernya.
Soal Sugeng sambung Imron, jika apa yang disampaikannya ingin memajukan Unras. Kenapa kesempatan yang beberapa tahun belakangan ini, justru Unras menjadi terpuruk seperti saat ini. Pihaknya menduga, kepemimpinan Rektor sebelum dirinya tidak bagus dalam hal mempertanggungjawabkan pekerjaannya, terlebih lagi soal pengelolaan keuangan, sehingga Unras menjadi kolaps.
” Sebenarnya tidak baik membicarakan orang, namun apa yang disampaikan orang banyak ini, menurut hemat saya sudah sangat kelewatan dan tidak lagi bisa ditolerir. Saya dengan berat hati sengaja mundur sebagai Ketua dewan pembina YRS, dan memilih mengambil jabatan Rektor ini, karena sangat prihatin dengan kondisinya saat ini. Dengan saya sebagai Rektor, saya pastikan akan memajukan Unras ini, seperti sebelumnya,” demikian Imron.(aer)

